News

Indonesia Beli Drone Militer China, Tapi Tidak Bisa Mengoptimalkan Fungsinya

Indonesia Bermaksud Meningkatkan Kapasitas

Indonesia segera meningkatkan kapasitas drone militernya untuk kegiatan surveilance. Salah satu yang dibidik dan tengah dalam pembiacaraan kontrak adalah Bayraktar TB-2. Drone serang ini nantinya beroperasi bersama kavaleri dan menjadi air cavalry.

Indonesia sendiri dikabarkan tengah mengevaluasi pinjaman luar negeri untuk akuisis drone tersebut. Nantinya, Bayraktar TB2 bisa digunakan oleh tiga matra angkatan bersenjata Indonesia.

Menariknya, sebelum membeli Bayraktar TB2, ternyata Indonesia sudah membeli drone asal China. Yaitu CH 4 Rainbow yang menjadi titik awal akuisisi drone tempur Indonesia.

Namun anehnya, Indonesia tidak bisa benar-benar mengendalikan drone tersebut. Seperti, Indonesia tidak bisa mengerahkan CH 4 Rainbow ke China. Drone tersebut saat mendekati wilayah China, secara otomatis akan berbalik arah dan kembali.

Bahkan jika Indonesia keras kepala, drone itu bisa secara otomatis meledakkan dirinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena China memasukkan sejumlah fitur sensitif di dalamnya.

Fitur atau sistem tersebut dijuluki geofence listrik, dan fungsinya seperti yang sudah diterangkan di atas.

“Ini yang disebut sebagai alat pengawas, sebuah teknologi untuk memastikan drone yang China ekspor tidak berbalik menyerang dirinya”, ungkap kemenhan China, 17 Mei 2023.

Baca Juga:  Indonesia Borong Rudal Balistik & Sistem Pertahanan Udara Berlapis dari Turki

Fakta tersebut mengungkap bahwa geofence listrik memang sengaja dipasang sesuai arahan Kemenhan China.

Kemenhan China meminta kepada pihak pembuat drone untuk memasukkan fitur tersebut. Temuan ini diungkapkan oleh CEO Baykar Technology Turki, Haluk Bayraktar.

Menurut CEO ini, siapapun yang membeli CH 4 Rainbow tidak akan bisa digunakan untuk melawan China. Fitur ini juga rentan disusupi malware yang bisa sengaja disusupkan melalui satelit Beidou jika misalnya terjadi konflik dengan China dan Kita ingin memantau Situasi LCS, drone bisa disetting tidak bisa memasuki LCS.

Dia pun menjelaskan bahwa karena hal itu, banyak konsumen yang akhirnya percaya dengan drone Turki. “Pembatasan kinerja ini menyebabkan klien beralih ke drone Turki”, ucapnya.

Kendati demikian, seorang pakar militer China Li Jie melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang lumrah. Karena baginya, keamanan nasional China harus di atas segalanya bagi pembuat drone.

Baca Juga:  Proyek memperpanjang Umur dan Hidup Abadi Kian Mendekati Kenyataan

“Sebuah drone perlu memiliki semacam GPS untuk memandunya, Amerika saja memasangnya pada platform tak berawak mereka”.

“Dan China dengan sistem navigasi BeiDou, sehingga membuat sensor drone sangat sensitif terhadap data bujur dan lintang”, ungkap Li menerangkan.

CH-4 merupakan drone TNI AU yang berasal dari China. Pesawat tempur tak berawak ini merupakan salah satu varian dari CASC Rainbow yang dikembangkan China Academy of Aerospace Aerodynamics.
spesifikasi drone militer indonesia
Dikutip dari situs Military Drones, drone ini memiliki dua versi, yaitu CH-4A dan CH-4B. CH-4A merupakan drone pengintaian yang mampu menempuh jarak 3.500-5.000 kilometer serta memiliki daya tahan hingga 30 sampai 40 jam.
Sedangkan CH-4B adalah drone pengintaian sekaligus penyerang yang memiliki 6 senjata dan muatan sekitar 250 hingga 345 kg. Drone CH-4 ini dirancang khusus untuk berbagai misi pengintaian di darat maupun laut. Drone ini bisa menembakan senjata dari jarak ketinggian hingga 5.000 meter. Hal ini tentu bisa membuatnya melakukan serangan dari posisi dengan tampilan area yang luas.
Selain itu, CH-4 juga dilengkapi stasiun kontrol modern dua orang untuk menerbangkan drone dari jarak jauh dengan ketentuan untuk jalur penglihatan dan komunikasi satelit. Lebih lanjut, CH-4 UAV ini memiliki badan pesawat yang ramping dan berisikan optik fit, avionik set, bahan bakar, serta mesin.
Pada bagian dagu pesawat menampung kit sensor dengan kemampuan Infra-red dan pengintai laser. Selain digunakan TNI AU, beberapa negara lain juga tercatat telah menggunakan CH-4 ini, termasuk Arab Saudi dan Mesir.
Spesifikasi Drone CH-4 yang digunakan TNI Angkatan Udara:
  • Negara asal : China
  • Awak : 0
  • Panjang : 36,1 kaki atau 11 m
  • Lebar : 65,6 kaki atau 20 m
  • Tinggi : 12,5 kaki atau 3,80 m
  • Berat kosong : 1.600 kg
  • Berat MTOW : 4.500 kg
  • Kecepatan max : 217 mph
  • Powerplant : Mesin 1 x 900 Hp
  • Persenjataan : Empat hingga enam underwing untuk membawa rudal berpemandu anti-tank atau drop bomb atau guided drop bomb.
Baca Juga:  Raksasa Teknologi Baidu Menggoyang Chat GPT dengan Teknologi Ernie-bot

Sumber: Zona jakarta – SINDO

Builder Indonesia

Builder ID, Platform Online terdepan tentang teknologi konstruksi. Teknik perkayuan, teknik bangunan, Teknik pengelasan, Teknik Kelistrikan, teknik konstruksi, teknik finishing dan pengecatan.Review produk bangunan, review Alat pertukangan, informasi teknologi bahan bangunan, inovasi teknologi konstruksi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Non Aktifkan Adblocker untuk Bisa membaca Artikel Kami