News

Mukaab, Bangunan Raksasa Arab Saudi yang Mirip Ka’Bah

Desain Mukaab yang Mirip Ka'bah Menuai Banyak Kritik

Arab Saudi sedang mengalami ledakan konstruksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bersamaan dengan gedung pencakar langit sepanjang 170 km yang diumumkan sebelumnya dan proyek giga Qiddiya, muncul proyek ambisius lainnya bernama Mukaab. Ini akan terdiri dari gedung pencakar langit berbentuk kubus yang sangat besar yang menampung menara yang berputar di dalamnya.

Mukaab akan mencapai ketinggian 400 m (1.312 kaki), yang menempatkannya di peringkat 41 dunia tertinggi. Namun, itu juga akan sama panjang dan lebarnya, yang membuatnya sangat masif. Eksterior dekoratifnya terinspirasi oleh arsitektur Islam tradisional dan akan diatapi oleh taman atap.

Interiornya yang luas akan memiliki luas lantai sekitar 2 kilometer persegi (0,77 mil persegi), yang menurut Dana Investasi Publik Pemerintah Saudi akan cukup besar untuk menampung 20 Gedung Empire State. Di luar ukurannya yang tipis, hal yang paling menarik tentang interiornya adalah menara besar yang berputar yang akan diposisikan di tengahnya – anggap saja seperti sebuah kotak besar dengan menara di dalamnya, pada dasarnya.

“[The Mukaab] akan mencakup menara di atas dasar spiral yang akan menjadi tujuan perhotelan premium dengan banyak atraksi ritel, budaya dan wisata, bersama dengan unit perumahan dan hotel, ruang komersial, dan fasilitas rekreasi,” jelas Publik Saudi.

Di tempat lain di dalam, Mukaab juga akan menampilkan semacam pengalaman holografik yang kabarnya akan digunakan untuk menggambarkan pemandangan bawah air dan dunia lain yang aneh. Semuanya sangat ambisius dan futuristik.

Mukaab akan menjadi inti dari pembangunan yang lebih besar di Riyadh yang disebut Murabba Baru yang akan melibatkan pembangunan ribuan rumah baru, hotel, dan ruang ritel, serta kantor dan fasilitas rekreasi, teater imersif, dan universitas teknologi dan desain .

Proyek ini ditangani oleh Perusahaan Pengembangan Murabba Baru, dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memimpinnya. Diharapkan akan selesai pada tahun 2030. Video di bawah ini menawarkan beberapa detail lebih lanjut tentang desainnya.

Baca Juga:  Sepeda Listrik Harley Davidson untuk Anak-anak, Keren!

Dikecam Banyak Kalangan

“Ka’bah baru” disebut bakal dibuat Arab Saudi. Ini menyindir pembangunan The Mukaab, yang menjadi mega proyek terbaru kerajaan di ibu kota Riyadh.

Sejak Kamis pekan lalu, pemerintah Putra Mahkota yang juga Perdana Menteri (PM) Mohammed bin Salman (MBS) memang mencanangkan pembangunan pusat kota modern baru di negeri tersebut. Pembangunan The Mukaab sendiri, merupakan bagian dari proyek Perusahaan Pengembangan Murabba Baru (NMDC) yang didukung Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi.

Kecaman soal Mukaab, dari pihak yang mencemoohnya terjadi karena bangunan tersebut dituding mirip dengan Ka’bah”. Mukaab, berbentuk kubus setinggi 400 meter, lebar 400 meter, dan panjang 400 meter.

Bedanya, jika Ka’bah merupakan simbol suci ibadah umat Muslim, Mukaab akan menjadi tujuan perhotelan premium. Termasuk atraksi ritel, budaya dan wisata.

Di dalamnya ada pula unit perumahan dan hotel, ruang komersial, dan rekreasi yang diharapkan bisa menggaet wisatawan mancanegara. Arab Saudi menjrgetkan 180 miliar riyal ke PDB non minyak dari sana.

Pembangunan Mukaab sendiri ditargetkan selesai 2030. MBS sendiri menjadi pemimpin proyek itu.

“Membangun Ka’bah baru yang secara eksklusif ditujukan untuk kapitalisme agak terlalu sulit,” kata seorang kritikus yang juga serrana reporter Intercept, Murtaza Hussain.

Baca Juga:  Paket Tesla PowerWall Mulai Dijual di Jepang

“Tampaknya (MBS) sedang membangun Ka’bahnya. Apakah dia akan menegakkannya sebagai kiblat baru bagi para jamaah?” cuit sosok kontra lain, akademisi Asad Abu Khalil.

“Nabi Muhammad (SAW) mengatakan salah satu tanda kiamat adalah bahwa Anda akan melihat ‘para gembala bersaing dalam membangun gedung-gedung tinggi,” kata pengguna Twitter @2015 Jmr seraya menggaitkan The Mukaab dengen tanda kiamat.

Sebenarnya, ini bukan proyek ambisius pertama Arab Saudi. Negeri itu memiliki setidaknya lima proyek ‘gila’ lain, mulai dari kota futuristik NEOM, proyet Laut Merah, resort mewah Amaala di pantai Barat Laut Arab Saudi, proyek warisan budaya di Ad Diriya, dan taman hiburan mewah Qiddiya.

 

Visi Saudi 2030

Selama ini Arab Saudi dikenal sebagai negara yang ekonominya bergantung dengan minyak. Namun saat Raja Salman bin AbdulAziz, ayah MBS, menjadi pemimpinnya di 2015 negara itu mengumumkan Visi Saudi 2030.

Visi Saudi 2030 sendiri merupakan sebuah gambaran perekonomian baru Arab Saudi di tahun 2030. Dalam visi itu, Raja Salman menginginkan agar ketergantungan negara itu terhadap migas dikurangi dan sektor ekonomi terdiversifikasi.

Gayung bersambut saat MBS dipilih sebagai Putra Mahkota di 2017. Ia sibuk mendiversifikasi sumber pendapatan negara.

Negeri itu, tengah fokus membangun pariwisata untuk mencapai target menjadi salah satu pilar ekonomi di masa yang akan datang. Pariwisata akan menjadi penyokong PDB kedua setelah minyak.

Kocek US$500 miliar lebih digelontorkan untuk proyek-proyek besar. Ini untuk merevolusi pariwisata kerajaan agar sesuai dengan tren khalayak nasional dan internasional.

Baca Juga:  Dominasi 5G Tiongkok, 3,19 juta BTS dibangun Amerika Baru Punya 100 Ribu

Reformasi dirancang untuk membuka diri terhadap dunia termasuk aturan untuk mengakomodasi investasi di sektor pariwisata. Terobosan lain adalah e-visa dapat dikeluarkan untuk pelancong hanya dalam waktu lima menit.

Good Bye Minyak

Ini juga terjadi karena sejumlah ramalan soal mulai ditinggalkannya energi fossil, termasuk minyak yang jadi andalan Arab Saudi. Minyak akan jadi salah satu yang paling mengalami penurunan permintaan terutama dari transportasi yang selama ini memberikan sumbangsih terbesar terhadap permintaan minyak dunia.

Peralihan ke energi terbarukan karena masalah emisi karbon dunia sehingga terjadi kesepakatan negara-negara untuk bersama-sama mengurangi emisi karbon. Negara Saudi Arabia adalah penyumbang emisi karbon terbesar kedua di daerah timur tengah setelah Iran.

Menurut IEA (The International Energy Agency), dalam “Outlook Energy 2021”, tingkat permintaan minyak akan turun hingga 104 juta barel per hari (mb/d) pada pertengahan 2030-an. Ini kemudian turun sangat sedikit hingga 2050.

Pada tahun 2030 dan 2050, permintaan minyak untuk transportasi jalan menurun lebih dari 2 mb/d secara global. Tahun 2030, 15% mobil penumpang di jalanan dikuasai mobil listrik dan meningkat menjadi 30% pada tahun 2050.

Berdasarkan data BP Statistical Review, Saudi Arabia memiliki cadangan minyak sebesar 297.500 mb dan menjadi negara yang memiliki cadangan terbesar kedua di dunia dengan porsi 17,2% dari total cadangan minyak dunia.Saudi Arabia berada di urutan kedua dengan produksi 11.039 mb/d.

Builder Indonesia

Builder ID, Platform Online terdepan tentang teknologi konstruksi. Teknik perkayuan, teknik bangunan, Teknik pengelasan, Teknik Kelistrikan, teknik konstruksi, teknik finishing dan pengecatan.Review produk bangunan, review Alat pertukangan, informasi teknologi bahan bangunan, inovasi teknologi konstruksi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Non Aktifkan Adblocker untuk Bisa membaca Artikel Kami