News

Negara-negara Muslim Mulai Mempersiapkan Kemandirian Alutsista

Bangkitnya Industri Pertahanan Negara Muslim

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Timur Tengah telah mengalami transisi dari importir senjata menjadi lebih mandiri dengan industri senjata nasional yang cukup besar.

Iran, Turki, dan Pakistan telah berada di garis depan dalam gerakan ini, diikuti oleh UEA dan Arab Saudi, diikuti oleh Mesir dan Indonesia yang juga melakukan hal yang sama.

Saat ini, negara-negara tersebut secara kolektif memiliki tidak kurang dari 15% industri senjata terkemuka, dengan sekitar 1.500 perusahaan dan lebih dari 1,5 juta karyawan. Turki sendiri memiliki hampir sepuluh perusahaan terkemuka, termasuk ASELSAN, TAI, BMC, Roketsan, DTET, FNSS, dan Havelsan, yang masuk dalam peringkat 100 teratas di industri ini.

Namun, penting untuk dicatat bahwa kita harus melihat lebih dari sekedar kesuksesan finansial. Pendapatan saja bukanlah satu-satunya indikator signifikansi perusahaan-perusahaan tersebut. Misalnya, Iran mempunyai sekitar 300 perusahaan dan diperkirakan memiliki 400.000 karyawan, namun Iran tidak termasuk dalam industri global teratas dalam daftar mana pun.

Menariknya, hanya perusahaan drone Iran yang memiliki lebih banyak karyawan dan memproduksi lebih banyak dibandingkan negara-negara Barat, namun mereka beroperasi pada margin pasar global. Perusahaan seperti Qods Aviation Industry Company, IAMCO, dan Shahed Aviation Industries unggul di pasar drone, bahkan dengan lini produksi asing.

Industri senjata Iran secara keseluruhan berfokus pada memasok sekutu dibandingkan memperoleh pangsa pasar internasional yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan Saudi seperti Scopa dan Sami sudah masuk dalam peringkat 120 perusahaan pertahanan teratas di dunia dan kemungkinan besar akan masuk dalam 50 besar dalam 10 tahun ke depan.

Pada tingkat lebih lanjut, kami memiliki EDGE di UEA; Pakistan’s Ordnance Factories (POF) dan Pakistan Aeronautical Complex (PAC), juga termasuk di antara industri global teratas dan bersama-sama memasok ke lebih dari 40 negara.

Kemitraan dengan perusahaan-perusahaan Turki, Perancis, dan Pakistan, serta transfer teknologi, mempunyai potensi untuk mempercepat industri senjata di Indonesia dan Mesir, yang telah mempekerjakan sekitar 200.000 orang di industri senjata mereka selama beberapa tahun terakhir.

Meskipun Aljazair telah melakukan transfer teknologi yang penting dengan Tiongkok dan Rusia, Aljazair masih tertinggal dibandingkan negara-negara Muslim lainnya, meskipun baru-baru ini ada investasi di pabrik amunisi modern.

Faktanya adalah konsumen senjata yang makmur, yang dahulu bergantung pada pembelian senjata Barat dengan kekayaan minyak mereka, kini mengembangkan industri senjata berat mereka sendiri.

Baca Juga:  Beterai Tenaga Surya Tesla Mulai Diadopsi oleh Qatar

Kita memperkirakan Arab Saudi dan UEA akan mulai menguji rudal balistik yang diproduksi di dalam negeri dalam waktu kurang dari lima tahun, dan Turki akan mengumumkan sistem pertahanan anti-udaranya sendiri dalam tiga tahun ke depan. Ini hanyalah beberapa contoh perkembangan masa depan yang dapat kita antisipasi dari negara-negara tersebut.

Tidak diragukan lagi, kejadian baru-baru ini di Israel dan Gaza semakin mendorong negara-negara ini untuk berinvestasi di industri senjata mereka sendiri. Kenyataannya adalah kita berada di jalur menuju dunia yang memiliki banyak senjata dan swasembada militer, dengan banyak pemain di industri senjata.

Faktor lainnya adalah Perkembangan dan modernisasi pusat-pusat penelitian di negara-negara ini memainkan peran penting dalam kemajuan mereka menuju swasembada industri senjata. Pusat-pusat penelitian ini berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan inovasi, memungkinkan perolehan dan kemajuan teknologi. Ketika negara-negara maju terlibat dalam persaingan pasar senjata dan transfer teknologi, negara-negara ini didorong oleh pertukaran pengetahuan.

Mandiri dalam industri pertahanan adalah hal yang penting bagi banyak negara, termasuk negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Ada beberapa alasan kuat mengapa negara-negara Muslim harus berupaya untuk mengembangkan dan mandiri dalam industri pertahanan mereka:

  1. Kemandirian Strategis: Dalam hal pertahanan, memiliki kemandirian strategis berarti bahwa negara memiliki kendali atas produksi, pemeliharaan, dan pengembangan peralatan militer mereka. Ini memungkinkan negara untuk mengamankan sumber daya pertahanan tanpa harus tergantung pada impor peralatan militer dari negara lain, yang dapat menghadirkan risiko keamanan jika hubungan internasional tidak stabil.
  2. Keamanan Nasional: Negara-negara memiliki kebutuhan khusus dalam pertahanan yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh penyedia asing. Ini bisa termasuk perlindungan terhadap ancaman teroris, perbatasan yang tidak stabil, atau konflik regional yang unik. Dengan industri pertahanan yang mandiri, negara memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  3. Ekonomi dan Ketenagakerjaan: Industri pertahanan yang mandiri dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Hal ini melibatkan pembuatan peralatan militer, penelitian dan pengembangan, serta pelatihan personel militer, semuanya berkontribusi pada perekonomian negara.
  4. Kedaulatan Nasional: Dalam konteks geopolitik yang rumit, tergantung pada impor senjata dan peralatan militer dari negara-negara lain dapat mengancam kedaulatan nasional. Kemandirian dalam industri pertahanan memungkinkan negara untuk mengendalikan sumber daya pertahanannya sendiri dan tidak tunduk pada kebijakan luar negeri atau tekanan dari negara lain.
  5. Penelitian dan Inovasi: Pengembangan industri pertahanan mandiri mendorong penelitian dan inovasi dalam teknologi militer. Hal ini dapat berdampak positif pada sektor-sektor lain seperti teknologi, ilmu pengetahuan, dan teknik. Penemuan dalam teknologi pertahanan juga dapat memiliki aplikasi sipil yang bermanfaat.
  6. Diversifikasi Ekonomi: Bergantung pada industri pertahanan dapat menjadi risiko jika ada penurunan permintaan global atau konflik perdagangan. Dengan memiliki beragam sektor industri, negara dapat lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi global.
  7. Pengaruh Politik dan Diplomasi: Kemampuan untuk memproduksi peralatan militer dan teknologi pertahanan dapat memberikan negara lebih banyak pengaruh politik dan diplomasi di panggung dunia. Ini dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar dalam hubungan internasional.
  8. Pertahanan Lingkungan: Kendali atas teknologi pertahanan sendiri juga dapat memberikan negara kontrol lebih besar atas dampak lingkungan dari operasi militer dan penggunaan senjata. Negara yang memiliki teknologi pertahanan yang lebih canggih mungkin dapat mengurangi dampak lingkungan dalam situasi konflik.
Baca Juga:  RadioGPT, Stasiun radio berbasis AI 'pertama di dunia'

Namun, penting untuk diingat bahwa pengembangan industri pertahanan mandiri juga memerlukan sumber daya dan investasi yang signifikan. Itu bisa menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara yang mungkin memiliki keterbatasan anggaran. Selain itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara pertahanan mandiri dan kerja sama internasional untuk mencapai stabilitas dan perdamaian global. Dengan berfokus pada kemandirian dalam industri pertahanan, negara-negara Muslim dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam menjaga keamanan dan stabilitas di tingkat regional dan global.

Daftar Negara Islam Dengan Kemampuan Produksi Alutsista

Sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim telah mengembangkan industri militer yang maju dan mampu memproduksi peralatan pertahanan yang canggih. Beberapa di antaranya termasuk:

  1. Turki: Turki telah menjadi pemain utama dalam industri pertahanan global. Mereka memproduksi berbagai jenis peralatan militer, termasuk pesawat tempur, tank, senjata kecil, dan sistem pertahanan udara. Perusahaan-perusahaan seperti Turkish Aerospace Industries (TAI) dan Roketsan telah menjadi produsen terkemuka dalam industri pertahanan.
  2. Pakistan: Pakistan memiliki industri pertahanan yang cukup maju, terutama dalam produksi pesawat tempur seperti JF-17 Thunder, yang dikembangkan bersama dengan Tiongkok. Pakistan juga memproduksi senjata kecil, tank, dan rudal.
  3. Iran: Meskipun dihadapkan pada sanksi internasional, Iran telah mengembangkan industri pertahanan yang cukup kuat. Mereka memproduksi berbagai sistem senjata, termasuk rudal balistik dan peralatan pertahanan udara. Selain itu, Iran juga memiliki kapabilitas dalam pengembangan kapal perang dan kapal selam.
  4. Arab Saudi: Arab Saudi memiliki industri pertahanan yang semakin berkembang, dengan fokus pada pembelian dan produksi peralatan militer canggih. Mereka telah mengadakan kontrak besar dengan produsen senjata internasional dan memproduksi berbagai kendaraan tempur.
  5. Indonesia: Indonesia juga memiliki industri pertahanan yang semakin maju. Mereka memproduksi kapal perang, kendaraan lapis baja, senjata ringan, dan bahkan pesawat tempur CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia.
  6. Malaysia: Malaysia memiliki industri pertahanan yang terus berkembang. Mereka memproduksi peralatan pertahanan seperti pesawat tempur FA-50PH dan sistem pertahanan udara VL MICA.
  7. Uni Emirat Arab (UEA): UEA memiliki industri pertahanan yang maju, terutama dalam produksi pesawat tak berawak (drone) seperti drone Wing Loong II buatan Tiongkok. Mereka juga memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya.
  8. Israel: Meskipun memiliki populasi yang beragam, Israel adalah salah satu negara dengan industri pertahanan terkuat di dunia. Mereka memproduksi berbagai jenis peralatan militer, termasuk tank, pesawat tempur, sistem pertahanan rudal Iron Dome, dan teknologi militer canggih lainnya.
  9. Mesir: Mesir juga memiliki industri pertahanan yang berkembang, dengan produksi pesawat tempur, tank, dan peralatan pertahanan lainnya.
  10. Qatar: Qatar adalah pemain baru dalam industri pertahanan, tetapi telah mengambil langkah-langkah untuk membangun kemampuan pertahanan nasional dengan investasi dalam peralatan militer canggih seperti pesawat tempur Rafale dari Prancis.
Baca Juga:  Start Up Group1 Segera Mengkomersialkan Baterai Potassium

Penting untuk dicatat bahwa industri pertahanan adalah sektor yang memerlukan investasi besar dalam penelitian dan pengembangan serta membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih. Keberhasilan negara-negara ini dalam mengembangkan industri pertahanan mereka juga sering kali melibatkan kerjasama internasional dalam bentuk transfer teknologi dan investasi asing. Sebagian besar negara ini memiliki tujuan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional mereka, serta meningkatkan perekonomian mereka melalui ekspor peralatan militer yang berkualitas.

Source: Patricia Marins – defensearabia.com – CNN.com – Thedrive

Builder Indonesia

Builder ID, Platform Online terdepan tentang teknologi konstruksi. Teknik perkayuan, teknik bangunan, Teknik pengelasan, Teknik Kelistrikan, teknik konstruksi, teknik finishing dan pengecatan.Review produk bangunan, review Alat pertukangan, informasi teknologi bahan bangunan, inovasi teknologi konstruksi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Non Aktifkan Adblocker untuk Bisa membaca Artikel Kami