News

Desain Gedung Istana Negara Baru Dinilai Kurang Ecofriendly dan High Maintenance

Kritik Desain Istana Negara Baru Diharapkan Jadi pertimbangan Pemerintah

Desain Gedung Istana Negara Baru Dinilai Kurang Ecofriendly dan High Maintenance. Di Era modern saat ini banyak negara yang membangun gedung dengan konsep minimalis, eco friendly, multi fungsi, dan hemat energi. Namun desain yang ditampilkan untuk gedung istana baru malah terkesan hi cost dan membutuhkan maintenance tinggi serta jauh dari kata efisien.

lima asosiasi profesional, yakni Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Landskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perancangan Wilayah dan Kota (IAP), menyatakan sikap dan mengkritik salah satu rancangan istana negara yang berbentuk burung garuda.

Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) I Ketut Rana Wiarcha, bangunan istana negara yang berbentuk burung garuda atau burung yang menyerupai garuda merupakan simbol yang di bidang arsitektur tidaklah mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital.

Mereka merekomendasikan tiga hal sebagai berikut:
  1. Istana negara versi burung garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu saja pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana.
  2. Mengusulkan desain bangunan gedung istana disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun penataan tata ruangnya, termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol.
  3. Terkait kepentingan awal pembangunan IKN, memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui TUGU NOL yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan hujan tropis.
Baca Juga:  Baliwerti Surga Belanja Peralatan Furniture dan Bahan Bangunan di Surabaya

Desain istana negara yang sempat ditampilkan memang mendapatkan banyak pro dan kontra. bentuk bangunan memang mengesankan desain yang kurang futuristik serta bertpotensi pemborosan biaya baik pembangunan maupun maintenance atau perawatannya.

Dewan Arsitek Indonesia (DAI) menyayangkan dan menyesalkan istana negara di ibu kota baru (IKN), Kalimantan Timur, dirancang oleh pematung yang bukan arsitek profesional. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksana Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek dijelaskan siapa saja yang boleh merancang dan tidak.

Oleh karena itu, DAI menyatakan sikap bahwa perancangan bangunan istana negara di ibu kota baru seharusnya dilakukan berdasarkan peraturan dan ketentuan tersebut. “Aturannya sudah jelas, clear, siapa yang boleh merancang dan siapa yang tidak,” kata Anggota DAI Bambang Eryudhawan seperti dikutip dari Kompas.com

Baca Juga:  Roca Indonesia Bangun Pabrik Membidik Peluang Pasar Sanitary

 

Source:Kompas.com

 

Builder Indonesia

Builder ID, Platform Online terdepan tentang teknologi konstruksi. Teknik perkayuan, teknik bangunan, Teknik pengelasan, Teknik Kelistrikan, teknik konstruksi, teknik finishing dan pengecatan.Review produk bangunan, review Alat pertukangan, informasi teknologi bahan bangunan, inovasi teknologi konstruksi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker