Hydroceramic: Material Dinding Pendingin Pasif dan Status Risetnya Saat Ini

Kendi tanah liat tradisional yang menjaga air tetap sejuk tanpa listrik ternyata jadi inspirasi di balik salah satu riset material bangunan paling menarik satu dekade terakhir. Hydroceramic, hasil riset Institute for Advanced Architecture of Catalonia (IAAC) di Barcelona, memanfaatkan prinsip evaporasi sederhana yang sama untuk menciptakan dinding yang bisa mendinginkan ruangan tanpa membutuhkan listrik sama sekali.
Perlu digarisbawahi sejak awal: hydroceramic hingga kini masih berstatus proyek riset akademik dari IAAC, belum menjadi produk komersial yang tersedia di pasaran. Berikut cara kerja material ini, hasil riset terkini, dan status pengembangannya.
Asal-Usul Riset Hydroceramic
Material ini pertama kali dikembangkan oleh mahasiswa program Digital Matter Intelligent Constructions di IAAC, di bawah arahan direktur akademik Areti Markopoulou. Proyek ini mengeksplorasi bagaimana material “cerdas” bisa merespons kondisi lingkungan secara pasif, terinspirasi dari mekanisme kendi tanah liat tradisional yang mendinginkan air melalui evaporasi alami.
Cara Kerja Hydroceramic
Material ini tersusun dari tiga komponen utama:
- Hydrogel — bahan penyerap air yang mampu menampung air hingga ratusan kali dari beratnya sendiri, biasanya menggunakan sodium polyacrylate.
- Lapisan kain (fabric) — berfungsi sebagai saluran yang mendistribusikan air ke seluruh bagian hydrogel secara merata.
- Lapisan tanah liat (clay) — material pendukung terluar yang dipilih setelah pengujian dibanding akrilik dan aluminium, karena sifatnya yang berpori membantu proses evaporasi berlangsung lebih optimal.
Saat suhu di sekitar hydrogel meningkat, air yang tersimpan di dalamnya menguap, menyerap panas dalam prosesnya dan menurunkan suhu permukaan sekaligus meningkatkan kelembaban udara sekitar. Sifat ini membuat material bekerja secara otomatis dan proporsional — semakin panas kondisi di luar, semakin besar pula efek pendinginan yang dihasilkan, tanpa membutuhkan sensor atau kontrol elektronik apa pun.
Hasil Pengujian
Dalam eksperimen yang dilakukan IAAC, material komposit ini terbukti mampu menurunkan suhu ruangan tertutup sekitar 5–6 derajat Celsius dibanding kondisi kontrol tanpa hydroceramic, sekaligus meningkatkan kelembaban udara sekitar. Prinsip kerja ini memanfaatkan kalor laten penguapan air — sekitar 0,6 kilokalori per gram — sebagai mekanisme pendinginan pasif.
Status Pengembangan Saat Ini
Hydroceramic tetap menjadi area riset aktif di IAAC hingga beberapa tahun terakhir, melahirkan proyek-proyek turunan oleh mahasiswa generasi berikutnya. Salah satu contohnya adalah WindWave, proyek pengembangan lanjutan pada program studi 2023-2024 yang mengombinasikan prinsip hydrogel serupa dengan garam higroskopis (seperti natrium klorida) untuk meningkatkan kemampuan material menyerap kelembaban udara sekaligus air cair, memperluas potensi aplikasinya terutama untuk iklim dengan kelembaban tinggi.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan hydroceramic diproduksi secara massal atau tersedia sebagai produk komersial di pasar material bangunan. Statusnya tetap sebagai purwarupa (prototype) riset akademik yang terus dikembangkan dan disempurnakan.
Potensi dan Tantangan Menuju Komersialisasi
- Potensi biaya rendah — tanah liat sebagai bahan dasar utama relatif murah dan mudah didapat, meski biaya hydrogel berkualitas tinggi masih menjadi komponen yang lebih mahal.
- Kebutuhan pasokan air berkelanjutan — sistem membutuhkan pengisian ulang air secara berkala ke lapisan hydrogel, idealnya memanfaatkan air hujan yang ditampung, namun ini menambah kompleksitas desain dibanding dinding konvensional.
- Skalabilitas produksi — belum ada informasi publik mengenai uji coba pada skala bangunan penuh atau proses manufaktur massal yang teruji untuk aplikasi komersial.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah hydroceramic sudah bisa dibeli untuk aplikasi rumah tinggal?
Belum. Hingga saat ini hydroceramic masih berstatus riset akademik dari IAAC dan belum tersedia sebagai produk komersial di pasaran.
Apakah prinsip pendinginan evaporatif seperti ini sudah dipakai di teknologi lain?
Ya, prinsip serupa juga dipakai pada teknologi pendingin evaporatif konvensional (seperti pendingin ruangan berbasis air/swamp cooler) yang sudah lama dipakai di berbagai wilayah beriklim kering, meski hydroceramic mengeksplorasi aplikasi prinsip ini secara pasif pada material dinding bangunan.
Apakah hydroceramic cocok untuk iklim tropis lembab seperti Indonesia?
Berdasarkan riset lanjutan seperti WindWave, para peneliti sudah mulai mengeksplorasi variasi material yang mampu bekerja pada kondisi kelembaban tinggi, meski efektivitas pendinginan evaporatif secara umum cenderung lebih optimal pada kondisi udara yang lebih kering.



