Pertukangan Bangunan

Retak Non Struktur Pada Bangunan, Penyebab dan Solusi Retak Non Struktur

Retak Non Struktur Pada Bangunan, Penyebab dan Solusi Retak Non Struktur. Retak non struktural sering kita jumpai pada berbagai jenis bangunan. Berbdesa dengan retak struktur, Ada tiga tipe dari retak non struktur yang umum terjati yaitu Crazing, map cracking, dan retak Susut atau Skringkage.

Retak Non Struktur: Crazing

Crazing termasuk jenis retak nonstruktur yang terjadi akibat plesteran yang terlalu banyak di trowel dan pasir yang digunakan banyak mengandung butiran halus. Untuk memperbaiki retak crazing cukup mudah, yaitu dengan cara mengorek retak kemudian tutup dengan menggunakan dernpul. Retak crazing mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  • Membentuk jaringan retak yang halus, dangkal, dan tidak bersambung.
  • Membentuk pola heksagonal dengan jarak retak 5 mm sampai 75 mm.
  • Terjadi dalam selang waktu beberapa jam setelah aplikasi plesteran.
  • Retak sulit terlihat sampai debu atau uap air membuat retak menjadi terlihat.
Baca Juga:  Panduan Membuat Denah Rumah Agar Hemat Anggaran dan Tenaga

Retak Non Struktur: Map Cracking

Selain retak crazing, jenis retak lainnya adalah map cracking. Map craking teriadi akibat terlalu banyak menggunakan semen. Selain itu, Plesteran yang dibiarkan terlalu cepat kering akibat kehilangan air yang berlebihan juga menyebabkan terjadinya retak jenis ini.

Kehilangan iar Bila dindinq tidak terlindungi dari sinar rnatahari dan angin, terserap ke dalam tembok, dan pasir kekurangan butiran halus. Map craking mempunyai ciri:

  • jaringan retak yang menyerupai peta (map), membentuk pola heksagonal dengan jarak sampai 200 mm.
  • Ciri lainnya adalah struktur retak cenderung lebih dalam dan bersambung.

 

Retak Non Struktur: Retak Susut (Shringkage)

Retak susut sering dijumpai di sekitar dinding bagian tengah yang mempunyai bentang daerah sekitar pertemuan antara dinding dan pintu atau jendela. Retak susut terjadi akibat kandungan semen yang tinggi, mutu pasir yang buruk, plesteran yang diaplikasikan terlaiu tebal.

Baca Juga:  Beton Bertulang, Kelemahan dan Kelebihan Beton Bertulang

Untuk memperbaiki retak susut (shringkage) dapat dilakukan dengan menggunakan dempul. Beberapa tipe retak susut menurut penyebabnya sebagai berikut.

  • Susut karena gaya kapiler pada saat campuran dalam keadaan plastis atau masih basah (susut plastis). 5usut plastis terjadi akibat kehilangan air yang berlebihan saat plaster masih dalam kondisi plastis atau awal aplikasi. Retak susut plastis dapat ditemui pada sudut jendela.
  • Susut karena petgeringan (drying shrinkage), terjadi akibat hilangnya air pada saat proses pengeringan (susut kering). Retak susut kering terjadi akibat kandungan semen yang tinggi, mutu pasir yang buruk, dan plester yang diaplikasikan terlalu tebal.
  • Susut yang disebabkan karena perubahan volume plesteran maupun beton pada saat terjadi proses reaksi kimia antara semen dan air.
  • Susut karena karbonasi, terjadi pada saat dinding/beton yang sudah mengeras. Susut ini terjadi akibat masuknya gas karbondioksida (C0r) ke dalam pori plesteran/beton.
Baca Juga:  Pintu Sliding, Komponen Pintu Sliding dan Cara Pemasangannya

 

Demikian berbagai jenis Retak non struktur yang sering terjadi pada bangunan. Meskipun tidak berakibat fatal, retak non struktur juga mengurangi nilai estetika dan juga mengakibatkan berbagai problem yang cukup serius.

Kata Kunci:

retak beton non struktur,retak dinding non struktural

Komentar

comments

Tags

Builder Indonesia

Builder ID, Platform Online terdepan tentang teknologi konstruksi. Teknik perkayuan, teknik bangunan, Teknik pengelasan, Teknik Kelistrikan, teknik konstruksi, teknik finishing dan pengecatan.Review produk bangunan, review Alat pertukangan, informasi teknologi bahan bangunan, inovasi teknologi konstruksi

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker