News

Dynamix: Perkembangan Merek Semen Eks-Holcim Hingga Kini

Holcim Berubah Nama Menjadi Dynamix Setelah Diakuisisi Semen Indonesia

Rebranding perusahaan sering dianggap sekadar ganti logo dan nama tanpa substansi. Namun transformasi Holcim Indonesia menjadi Dynamix pada 2019 justru berkembang jauh melampaui sekadar pergantian merek — enam tahun kemudian, Dynamix tumbuh menjadi salah satu merek semen dengan portofolio produk ramah lingkungan yang diakui industri, lengkap dengan sertifikasi hijau dan penghargaan inovasi.

Berikut sejarah transformasi Holcim menjadi Dynamix dan perkembangan mereknya hingga saat ini.

Sejarah Transformasi

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) — sebelumnya bernama Semen Cibinong, lalu diakuisisi Holcim pada 2006 — mengalami perubahan kepemilikan signifikan ketika PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mengakuisisi 80,6% saham LafargeHolcim Group di PT Holcim Indonesia Tbk pada 2018-2019, senilai sekitar 917 juta dolar AS. Akuisisi ini otomatis mengakhiri hak penggunaan merek dagang Holcim, mendorong peluncuran nama perusahaan dan merek dagang baru: Dynamix, diresmikan pada Oktober 2019.

Baca Juga:  Dominasi 5G Tiongkok, 3,19 juta BTS dibangun Amerika Baru Punya 100 Ribu

Perkembangan Dynamix Hingga Kini

SBI kini mengoperasikan empat pabrik semen di Narogong (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Tuban (Jawa Timur), dan Lhoknga (Aceh), dengan total kapasitas produksi 14,5 juta ton semen per tahun dan mempekerjakan lebih dari 2.400 karyawan. Sebagai bagian dari Semen Indonesia Group (SIG), SBI menjalankan bisnis terintegrasi mencakup semen, beton siap pakai, dan produksi agregat.

Lini Produk Dynamix Saat Ini

Semen Dynamix kini diproduksi dalam tiga varian utama:

  • Dynamix Serba Guna — untuk kebutuhan konstruksi umum.
  • Dynamix Extra Power — untuk kebutuhan struktural dengan kekuatan lebih tinggi.
  • Dynamix Masonry — khusus untuk aplikasi pasangan bata dan plesteran.

Fokus Keberlanjutan dan Sertifikasi Hijau

SBI menerapkan prinsip ekonomi sirkular untuk menurunkan emisi karbon dalam proses produksinya, dengan penurunan emisi karbon sebesar 16,5% hingga akhir 2024 melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk pemanfaatan bahan bakar alternatif. Semen Dynamix diklaim menghasilkan emisi karbon 32% lebih rendah dibanding semen konvensional, dan telah memperoleh sertifikasi Green Label dari Green Product Council Indonesia.

Pada Juli 2025, Dynamix meraih penghargaan kategori Inovasi Semen dalam ajang Solo Best Brand & Innovation (SBBI) Awards, mengakui komitmen perusahaan terhadap inovasi produk ramah lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim.

Baca Juga:  Konsep Propulsi Nuklir Nasa Bisa Bawa Manusia Ke MArs dalam 45 Hari

Ekspansi ke Beton Siap Pakai

SBI juga memperluas lini bisnis ke beton siap pakai dengan merek Dynamix, mengoperasikan lebih dari 30 fasilitas pabrik beton siap pakai yang tersebar di Pulau Jawa, dilengkapi penambahan armada truk pengangkut untuk memenuhi permintaan pasar konstruksi skala besar hingga kebutuhan perumahan dan ritel.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah merek Holcim masih bisa ditemukan di Indonesia?
Tidak lagi untuk produk semen SBI; sejak Oktober 2019, seluruh lini produk yang sebelumnya menggunakan merek Holcim telah sepenuhnya beralih ke merek Dynamix menyusul berakhirnya hak penggunaan merek dagang Holcim pasca akuisisi oleh Semen Indonesia.

Apa yang membedakan Dynamix dari semen konvensional lainnya?
Selain tiga varian produk untuk kebutuhan berbeda, Dynamix menonjolkan klaim emisi karbon yang lebih rendah (32% dibanding semen konvensional) berkat penggunaan bahan bakar alternatif dan teknologi efisiensi energi, serta telah bersertifikasi Green Label.

Baca Juga:  SMIC Pembuat Chip Top China Baru Saja Mencapai Terobosan Seperti Intel

Apakah Dynamix hanya memproduksi semen kantong?
Tidak, SBI juga memproduksi beton siap pakai dengan merek Dynamix melalui lebih dari 30 fasilitas pabrik beton yang tersebar di Pulau Jawa, melayani kebutuhan konstruksi skala besar maupun perumahan.

Arkenzy R. Akbar

Arkenzy R. Akbar adalah seorang systems engineer dengan lebih dari delapan tahun pengalaman di bidang embedded systems, IoT industri, dan otomasi. Ia telah merancang dan mengimplementasikan sistem kontrol untuk berbagai sektor — dari manufaktur tekstil hingga agrikultur presisi. Pendekatan penulisannya menggabungkan kedalaman teknis dengan pengalaman lapangan nyata: jujur soal keterbatasan teknologi, tapi tetap antusias pada potensinya. Di luar dunia elektronika, Arkenzy gemar mendaki dan meyakini bahwa troubleshooting sistem tertanam tidak berbeda jauh dengan membaca medan di atas puncak gunung.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Non Aktifkan Adblocker untuk Bisa membaca Artikel Kami