Konstruksi

Standar ISO untuk Perusahaan dan Industri Konstruksi: Versi Terkini

Ragam Standar ISO dan Persyaratan ISO (International Organization for Standardization)

Perusahaan yang masih mencantumkan sertifikasi OHSAS 18001 di materi pemasarannya sebenarnya menunjukkan sesuatu yang sudah tidak berlaku — standar tersebut resmi digantikan sepenuhnya sejak 2021. Standar ISO menyasar hampir semua ragam bisnis dan usaha, termasuk industri konstruksi, dengan beragam jenis dan persyaratan berbeda untuk masing-masing sertifikasi.

Standar ISO diterapkan pada hasil produk, kegiatan produksi, serta tingkat keamanan dan pelayanan terhadap pihak terkait, baik pekerja maupun konsumen, agar bisa disebut berkualitas di mata dunia. Berikut jenis-jenis standar ISO yang relevan bagi perusahaan dan industri konstruksi, termasuk versi terkininya.

ISO 9001:2015 (Manajemen Mutu)

Standar manajemen mutu yang mendasarkan kepuasan konsumen sebagai persyaratan utama bagi perusahaan atau organisasi dalam memproduksi produk atau jasa. Versi 2015 menggantikan versi 2008 sebelumnya, dengan pendekatan yang lebih menekankan pemikiran berbasis risiko (risk-based thinking) dan keterlibatan kepemimpinan puncak organisasi.

ISO 14001:2015 (Manajemen Lingkungan)

Standar terkait risiko pencemaran lingkungan, mewajibkan perusahaan memberikan jaminan bahwa proses produksi dan penggunaan produknya tidak merusak lingkungan. Versi 2015 menggantikan versi 2004 sebelumnya, mencakup dampak pencemaran lingkungan dari seluruh rangkaian proses produksi hingga penggunaan produk. Tujuannya mengurangi polusi, menjaga lingkungan secara berkelanjutan, dan menyesuaikan kebijakan perusahaan dengan kebutuhan lingkungan setempat maupun internasional.

Baca Juga:  Dinding Penahan Tanah, Fungsi dan Jenis Retaining Walls

ISO 45001:2018 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Standar ini menggantikan sepenuhnya OHSAS 18001 (Occupational Health and Safety Assessment Series) yang resmi ditarik penggunaannya pada 2021. ISO 45001 mengutamakan keselamatan dan kesehatan pekerja, sangat relevan bagi industri dengan risiko keselamatan kerja tinggi seperti pertambangan dan konstruksi — meski penerapannya juga bisa relevan untuk industri lain tergantung kebijakan perusahaan dan regulasi yang berlaku.

ISO/IEC 17025:2017

Standar pengujian dan kalibrasi laboratorium, wajib dipenuhi industri kimia dan perusahaan yang menggunakan peralatan laboratorium untuk kegiatan R&D, seperti farmasi dan agrobisnis. Mencakup sterilisasi peralatan dan bahan yang digunakan, serta penilaian dampak zat terhadap lingkungan dan konsumen. Versi 2017 menggantikan versi 2008 sebelumnya.

IATF 16949:2016

Standar untuk industri otomotif yang menggantikan ISO/TS 16949 sebelumnya, digunakan sebagai kontrol terhadap konsistensi performa produk agar cacat produk dan masalah kualitas serupa bisa dihindari di pasar. Berlaku pula untuk kategori produk seperti hand tools dan peralatan otomotif.

Baca Juga:  Cara Tes Besi Beton Dilokasi Proyek Konstruksi

ISO/IEC 27001:2022

Standar keamanan informasi dan data, digunakan untuk menjaga keamanan data konsumen maupun perusahaan dari serangan luar. Umumnya diterapkan pada industri telekomunikasi dan perbankan yang mengutamakan keamanan informasi konsumen. Versi 2022 adalah pembaruan dari versi 2013 sebelumnya.

ISO 2859 (Sampling Kualitas)

Berkaitan dengan standar kualitas sampling, digunakan industri yang membutuhkan pengukuran dan analisis pada proses produksinya. Relevan bagi industri manufaktur, termasuk yang menggunakan sistem IoT dan robot sebagai bagian dari proses produksi.

ISO 22000:2018 (Keamanan Pangan)

Standar bagi produsen makanan, menetapkan persyaratan kebersihan dan keamanan produk makanan untuk dikonsumsi masyarakat — bebas dari racun dan zat berbahaya lainnya. Proses pembuatan dan bahan baku makanan juga menjadi subjek standardisasi. Versi 2018 menggantikan versi 2005 sebelumnya.

RSPO dan ISPO

Standar untuk industri perkebunan kelapa sawit, mewajibkan aktivitas produksi tidak merusak lingkungan dan aman. RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) berlaku internasional, sementara ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) adalah standar nasional khusus Indonesia. Keduanya bertujuan mengurangi risiko kerusakan hutan akibat pembakaran lahan dan praktik tidak berkelanjutan lainnya.

Baca Juga:  Fungsi Kolom dan Balok dalam Konstruksi Bangunan Beton

Kenapa Perusahaan Perlu Memperbarui Sertifikasi Lama

Standar ISO secara berkala direvisi mengikuti perkembangan praktik terbaik industri dan risiko baru yang muncul. Perusahaan yang masih menggunakan sertifikasi versi lama (seperti OHSAS 18001 yang sudah ditarik) berisiko dianggap tidak mengikuti standar terkini, yang bisa memengaruhi kepercayaan klien maupun proses tender proyek yang mensyaratkan sertifikasi aktif dan valid.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah perusahaan dengan OHSAS 18001 masih dianggap valid?
Tidak lagi; OHSAS 18001 resmi ditarik penggunaannya sejak 2021, dan perusahaan perlu bertransisi ke ISO 45001:2018 untuk sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja yang masih berlaku.

Apakah semua perusahaan konstruksi wajib memiliki seluruh standar ISO ini?
Tidak; kebutuhan sertifikasi ISO tergantung skala proyek, persyaratan klien atau tender, serta regulasi industri yang berlaku, sehingga perusahaan biasanya memilih sertifikasi yang paling relevan dengan lini bisnisnya.

Berapa lama proses mendapatkan sertifikasi ISO?
Bervariasi tergantung kompleksitas standar dan kesiapan perusahaan, namun umumnya membutuhkan waktu beberapa bulan hingga lebih dari setahun, mencakup pelatihan, implementasi sistem manajemen, dan proses audit oleh badan sertifikasi resmi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Non Aktifkan Adblocker untuk Bisa membaca Artikel Kami