Setting Mesin Las GTAW/TIG: SOP Lengkap 11 Langkah agar Hasil Las Presisi

Las TIG: Standar Tertinggi yang Butuh Presisi dari Langkah Pertama
Las GTAW atau TIG (Gas Tungsten Arc Welding / Tungsten Inert Gas) adalah teknik pengelasan paling presisi yang digunakan di industri manufaktur — dari komponen aerospace, pipa stainless steel industri farmasi, hingga rangka kendaraan balap. Berbeda dengan las SMAW (las listrik elektroda terbungkus) yang relatif toleran terhadap variasi, las TIG sangat sensitif: setting yang salah satu parameter saja bisa menghasilkan las yang cacat atau bahkan merusak material.
Itulah mengapa SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam setting mesin las GTAW bukan sekadar formalitas — ini panduan yang benar-benar menentukan kualitas dan keamanan hasil pengelasan.
Prinsip Kerja Las GTAW
Las GTAW menggunakan elektroda tungsten yang tidak melebur selama proses pengelasan — berbeda dengan las SMAW di mana elektroda ikut menjadi filler. Busur listrik terbentuk antara ujung elektroda tungsten dengan benda kerja, menghasilkan panas yang melebur logam dasar. Filler (bahan tambah) ditambahkan secara manual oleh welder menggunakan tangan yang lain — inilah yang membuat las TIG butuh koordinasi tangan yang lebih kompleks dari jenis las lain.
Gas pelindung inert (argon, helium, atau campurannya) dialirkan melalui nozzle pembakar untuk melindungi area las dari kontaminasi atmosfer (oksigen dan nitrogen) yang bisa melemahkan sambungan las.
Komponen Utama Mesin Las GTAW
Sebelum masuk ke SOP setting, penting memahami komponen-komponen yang akan dirangkai:
- Mesin las GTAW — power source yang bisa output AC maupun DC. AC untuk aluminium, DC untuk baja dan stainless steel
- Pembakar las (torch) — tempat elektroda tungsten dipasang, dilengkapi nozzle untuk aliran gas
- Elektroda tungsten — tidak melebur; berbeda jenis untuk AC dan DC. Ujungnya dibentuk berbeda tergantung polaritas
- Kolet (collet) — penjepit elektroda di dalam torch
- Nozzle (cup) — mengarahkan aliran gas ke area las
- Regulator gas — mengatur tekanan dan flow rate gas pelindung
- Tabung gas inert — biasanya argon untuk penggunaan umum
- Klem massa — menghubungkan benda kerja ke mesin
- Remote control — foot pedal atau thumb control untuk mengatur ampere saat pengelasan berjalan
SOP Setting Mesin Las GTAW — Urutan yang Benar
Langkah 1: Inspeksi Semua Komponen
Ini langkah yang tidak boleh dilewatkan — bahkan oleh welder berpengalaman sekalipun. Periksa kondisi seluruh komponen sebelum memulai:
- Kabel las dan kabel massa — periksa isolasi, tidak ada yang retak atau terkelupas
- Torch dan selang gas — tidak ada kebocoran, sambungan kencang
- Tabung gas — tekanan cukup, katup dalam kondisi baik
- Elektroda tungsten — kondisi ujung sesuai kebutuhan, tidak terkontaminasi
- Panel mesin las — semua tombol dan indikator berfungsi normal
Idealnya dibuat checklist tertulis yang ditandatangani sebelum setiap sesi pengelasan — terutama untuk lingkungan workshop profesional.
Langkah 2: Hubungkan Paket Selang ke Mesin
Sambungkan paket selang torch ke mesin las — termasuk sambungan saluran gas dan saluran air pendingin jika menggunakan torch berpendingin air (water-cooled torch). Pastikan semua fitting terkencang dan tidak ada yang miring atau longgar.
Langkah 3: Hubungkan Remote Control
Pasang foot pedal atau thumb control ke socket yang sesuai di mesin. Remote control memungkinkan welder mengatur ampere secara real-time saat mengelas — sangat penting untuk pengelasan material tipis atau saat mengelas di area yang sulit.
Langkah 4: Hubungkan Kabel Massa
Sambungkan kabel massa ke terminal yang benar di mesin, kemudian klem massa ke meja las atau langsung ke benda kerja. Kontak massa yang buruk adalah penyebab paling umum busur yang tidak stabil dan hasil las yang jelek.
Langkah 5: Pilih Polaritas yang Tepat
Ini keputusan teknis yang sangat penting:
| Material | Polaritas | Alasan |
|---|---|---|
| Aluminium dan magnesium | AC (arus bolak-balik) | AC memberikan efek cleaning action yang membersihkan lapisan oksida aluminium |
| Baja karbon, baja paduan | DCEN (DC elektroda negatif) | Panas terkonsentrasi di benda kerja, penetrasi lebih dalam |
| Stainless steel | DCEN | Hasil lebih bersih, HAZ (Heat Affected Zone) lebih kecil |
| Tembaga dan paduannya | DCEN | Konduktivitas panas tinggi butuh panas yang terpusat |
Langkah 6: Siapkan Elektroda Tungsten
Pemilihan dan persiapan elektroda tungsten sangat menentukan stabilitas busur:
- Untuk DC (baja, stainless): Elektroda tungsten thoriated (merah) atau ceriated (abu). Ujung dibentuk lancip dengan gerinda — semakin lancip untuk material tipis, semakin tumpul untuk material tebal
- Untuk AC (aluminium): Elektroda tungsten murni (hijau) atau zirconiated (putih). Ujung dibiarkan membulat (balled end) saat digunakan dengan AC
- Diameter elektroda dipilih berdasarkan amperage — lihat tabel rekomendasi di manual mesin
Langkah 7: Rakit Torch
Ini urutan perakitan torch yang benar — urutan yang salah bisa merusak kolet atau menyebabkan kebocoran gas:
- Longgarkan tutup belakang torch dan lepas tungsten
- Lepaskan nozzle dari body torch
- Lepaskan kolet dan dudukan kolet dari body torch
- Pasang kolet ukuran yang sesuai dengan diameter elektroda
- Pasang dudukan kolet, kencangkan
- Pasang nozzle kembali ke body torch
- Masukkan elektroda tungsten melalui tutup belakang — kemunculan ujung elektroda dari nozzle: 3–6 mm untuk pengelasan normal, tidak lebih dari diameter dalam nozzle
- Kencangkan tutup belakang untuk mengunci elektroda
Langkah 8: Pasang Regulator Gas dan Cek Kebocoran
Buka sebentar katup tabung gas untuk membersihkan kotoran di valve, kemudian pasang regulator. Hubungkan selang gas dari regulator ke mesin. Setelah semua terhubung, cek kebocoran dengan mengoleskan air sabun di semua sambungan — gelembung udara menandakan kebocoran yang harus diperbaiki sebelum melanjutkan.
Langkah 9: Hubungkan Daya Utama
Pastikan tegangan sumber listrik sesuai dengan spesifikasi mesin (lihat nameplate). Gunakan instalasi listrik yang memadai — las TIG membutuhkan daya yang cukup besar dan koneksi grounding yang baik.
Langkah 10: Hidupkan Mesin dan Setting Parameter
- Nyalakan mesin melalui switch utama
- Buka katup gas tabung
- Setting flow rate gas melalui regulator dan tombol cek gas — flow rate tipikal untuk argon: 8–15 liter/menit (lebih tinggi untuk nozzle besar atau material sensitif)
- Setting amperage awal berdasarkan ketebalan material (panduan umum: ~1 ampere per 0,025 mm ketebalan untuk baja)
- Setting pre-flow dan post-flow gas jika mesin mendukung — pre-flow melindungi elektroda saat busur baru dinyalakan, post-flow melindungi las yang baru selesai dari oksidasi
Langkah 11: Uji Coba dan Kalibrasi
Siapkan material uji coba (scrap material yang sama dengan benda kerja sebenarnya). Di sinilah saya selalu menekankan kepada siapapun yang baru belajar TIG: jangan langsung kerjakan benda kerja asli sebelum uji coba di scrap. Waktu untuk mencoba di material uji adalah investasi yang mencegah kerugian material dan menghemat waktu perbaikan.
Nyalakan busur, amati stabilitas dan karakter busurnya. Sesuaikan ampere, flow gas, dan jarak elektroda ke benda kerja hingga busur terasa stabil dan hasil las sesuai ekspektasi. Baru setelah yakin, pindah ke benda kerja asli.
Parameter Kritis yang Sering Salah Disetting
| Parameter | Efek Jika Terlalu Rendah | Efek Jika Terlalu Tinggi |
|---|---|---|
| Ampere | Penetrasi kurang, las dingin, tidak menyatu | Burn through, distorsi berlebih, HAZ lebar |
| Flow gas argon | Kontaminasi las (oksidasi), porositas | Boros gas, turbulence di nozzle mengganggu perlindungan |
| Kemunculan tungsten | Visibilitas kurang, panas ke torch berlebih | Stabilitas busur buruk, tungsten mudah terkontaminasi |
| Kecepatan travel | Panas berlebih, burn through, lebar las tidak merata | Penetrasi kurang, las dingin |
Kesimpulan
Setting mesin las GTAW yang benar adalah fondasi dari hasil las TIG yang berkualitas. Tidak ada shortcut di sini — setiap langkah dalam SOP ada alasan teknisnya, dan melewatkan satu saja bisa berakibat pada hasil las yang cacat atau bahkan kecelakaan kerja.
Bagi yang baru mulai mempelajari TIG welding, investasi waktu untuk memahami setiap komponen dan fungsinya — bukan sekadar hafal urutannya — adalah yang akan membedakan welder biasa dengan welder yang benar-benar kompeten.



