Cara Mengatur Besar Arus Ampere pada Pengelasan Las Listrik
Setting Ampere Pada Las Listrik yang Benar

Hasil las yang berlubang di tengah atau justru menumpuk tebal tanpa penetrasi sering ditelusuri balik ke satu kesalahan dasar pemula: pengaturan ampere yang tidak sesuai diameter elektroda. Bagi pemula yang menggunakan las busur listrik (SMAW), menentukan besar arus untuk menyesuaikan elektroda dan material las memang terasa sulit — berbeda dari welder profesional yang sudah punya “feeling” terlatih dari jam terbang bertahun-tahun. Namun setiap welder mahir pernah memulai dari titik yang sama.
Faktor yang Menentukan Besar Ampere
Besar kecilnya ampere las terutama tergantung pada diameter elektroda dan tipe elektroda yang digunakan. Faktor lain yang turut memengaruhi meliputi jenis bahan yang dilas serta posisi atau arah pengelasan. Setiap pabrik elektroda umumnya mencantumkan tabel rentang arus las yang disarankan pada kemasan elektroda — referensi ini sebaiknya selalu jadi titik awal sebelum menyesuaikan lebih lanjut berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Panduan Umum Rentang Ampere per Diameter Elektroda
Sebagai gambaran umum (selalu verifikasi dengan tabel spesifik pada kemasan elektroda yang digunakan):
- Elektroda 2,0 mm: sekitar 40-70 ampere
- Elektroda 2,6 mm: sekitar 60-100 ampere
- Elektroda 3,2 mm: sekitar 90-140 ampere
- Elektroda 4,0 mm: sekitar 130-190 ampere
- Elektroda 5,0 mm: sekitar 180-240 ampere
Tanda Ampere Terlalu Rendah
- Busur las sulit dinyalakan atau sering padam.
- Penetrasi las dangkal, hasil las menumpuk tebal di permukaan tanpa menyatu baik dengan material dasar.
- Elektroda cenderung menempel (lengket) pada benda kerja.
Tanda Ampere Terlalu Tinggi
- Percikan (spatter) berlebihan selama pengelasan.
- Elektroda mencair terlalu cepat, sulit dikendalikan.
- Risiko lubang tembus (burn through) pada material tipis.
- Alur las tampak terlalu lebar dan rendah dengan penetrasi berlebih yang bisa melemahkan struktur.
Memulai dan Menghentikan Pengelasan
Penyalaan busur las dilakukan dengan menyentuhkan ujung elektroda ke benda kerja, sementara pemadaman busur dilakukan dengan menjauhkan ujung elektroda dari benda kerja. Ketepatan penyalaan dan pemadaman busur sangat memengaruhi mutu lasan, terutama pada sambungan alur las.
Setelah busur las terbentuk, elektroda dijalankan pada kecepatan tertentu untuk membentuk alur las. Elektroda bisa ditarik lurus maupun diayun, dengan tetap menjaga panjang busur pada ukuran stabil. Sudut elektroda terhadap benda kerja disesuaikan dengan posisi pengelasan yang digunakan.
Sebelum mengangkat elektroda untuk menghentikan pengelasan, sebaiknya panjang busur dikurangi terlebih dahulu dengan merapatkan elektroda, baru kemudian ditarik agak miring. Pemadaman busur las sebaiknya tidak dilakukan tepat di tengah kawah las, melainkan diputar sedikit kembali sebelum ditarik — teknik ini membantu mengisi kawah las (crater fill) dan mencegah retak di titik akhir sambungan.
Tips Praktis untuk Pemula
- Selalu uji coba pada material sisa sebelum mengerjakan benda kerja utama, untuk menemukan setting ampere yang tepat.
- Perhatikan suara busur las — suara “mendesis” yang stabil (mirip bacon digoreng) umumnya menandakan ampere yang tepat, sementara suara letupan kasar menandakan ampere terlalu tinggi.
- Amati warna dan bentuk percikan — percikan yang terlalu banyak dan menyebar jauh biasanya menandakan ampere berlebih.
- Catat setting yang berhasil untuk kombinasi elektroda dan material tertentu, sehingga tidak perlu mengulang trial-error di kemudian hari.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tabel ampere di kemasan elektroda selalu akurat untuk semua kondisi?
Tabel tersebut adalah titik awal yang baik, namun kondisi aktual seperti ketebalan material, posisi pengelasan, dan kondisi mesin las bisa membutuhkan penyesuaian sedikit dari rentang yang tertera.
Kenapa elektroda sering lengket saat pemula baru belajar mengelas?
Penyebab paling umum adalah ampere yang terlalu rendah untuk diameter elektroda yang digunakan, sehingga busur tidak cukup kuat mempertahankan jarak dan elektroda menempel ke benda kerja.
Apakah teknik mengisi kawah las (crater fill) penting untuk semua jenis sambungan?
Sangat penting terutama untuk sambungan yang menahan beban struktural, karena kawah las yang tidak terisi dengan baik menjadi titik lemah yang rentan retak akibat konsentrasi tegangan di area tersebut.



